Keterbatasan Fisik Tak Surutkan Langkah Muhammad Ridwan Menembus Timnas Takraw Adaptive

PE
Pena Edukasi
Muhammad Ridwan, atlet takraw adaptive Timnas Indonesia asal Gresik, mengenakan toga wisuda saat berfoto bersama ayah dan ibunya.

Momen berharga Muhammad Ridwan, atlet sepak takraw adaptive Timnas Indonesia, saat berfoto bersama kedua orang tuanya. Ridwan, pemuda asal Bawean Gresik, tampak di tengah mengenakan toga kelulusan, didampingi sang ayah (kanan foto) dan ibunya (kiri foto).(Foto: M. Ridwan)

Gresik - Muhammad Ridwan, pemuda 23 tahun asal Desa Balikterus, Dusun Sungai Terus Deje, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. Berbekal kegigihan dan latihan otodidak melalui platform berbagi video YouTube, Ridwan sukses menembus skuad Tim Nasional (Timnas) Takraw Adaptive Indonesia.

Pencapaian luar biasa ini mengantarkan Ridwan mewakili Indonesia pada ajang Thailand Para Sports Championship 2026 yang berlangsung di Phra Nakhon Si Ayutthaya, Thailand, pada bulan September lalu.

Perjalanan Ridwan menuju level nasional jauh dari kata mudah. Tanpa fasilitas latihan yang memadai, ia merintis mimpinya dengan disiplin tinggi. Sebelum memulai pekerjaannya sebagai mekanik bengkel, Ridwan rutin berlari pagi guna menjaga kondisi fisiknya. Pada sore harinya, ia melanjutkan porsi latihan dengan menggunakan bola rotan. Rutinitas ini telah dilakoninya selama bertahun-tahun.

Ketertarikan Ridwan pada olahraga sepak takraw mulai bersemi sejak ia duduk di bangku kelas V Sekolah Dasar (SD). Minatnya terus berkembang, meskipun harus menghadapi minimnya fasilitas pendukung di kampung halamannya.

"Awalnya saya mendapat tawaran dari sesama atlet takraw di desa. Ketika menerima panggilan untuk mewakili Timnas, saya sempat merasa terkejut," ungkap Ridwan saat ditemui pada Kamis (27/8/2026).

Menjelang keberangkatannya ke Thailand, Ridwan telah berada di wilayah Gresik daratan selama kurang lebih satu pekan. Sembari menunggu jadwal keberangkatan, ia menetap di bengkel milik kerabatnya di kawasan Gresik Kota Baru (GKB).

"Sambil menunggu, saya membantu pekerjaan di bengkel milik saudara. Selain itu, saya juga tetap berlatih menimang bola, mengingat tidak ada lapangan takraw di sekitar sini," tambahnya.

Kondisi fisik yang dialaminya sejak lahir tidak menyurutkan semangat Ridwan untuk terus menekuni hobinya. Bakatnya bahkan sudah terlihat sejak SMP, di mana ia pernah meraih gelar juara takraw tingkat Bawean.

Pasca lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Ridwan sempat memfokuskan diri pada dunia kerja. Tiga tahun berselang, ia mulai menggeluti bidang otomotif dan berprofesi sebagai montir hingga saat ini.

"Saya belum pernah mewakili Gresik di tingkat daerah, namun langsung terpilih untuk Timnas. Rencananya kami akan berangkat pada tanggal 5 September mendatang," tutur anak bungsu dari tiga bersaudara ini.

Persembahan Khusus untuk Sang Ibu

Di balik kesuksesannya, Ridwan mendedikasikan pencapaiannya ini untuk sang ibu yang menjadi sumber motivasi utamanya. Ayahnya, Abdur Rahman, telah berpulang. Demikian pula dengan kakak pertamanya, sementara kakak keduanya tengah merantau.

Baca Juga: Adab kepada Orang Tua dan Guru: Dua Pintu Keberkahan dalam Hidup

Belajar Teknik dari YouTube

Ketiadaan pelatih formal tidak menghentikan langkah Ridwan untuk meningkatkan kemampuannya. Ia memanfaatkan YouTube sebagai sarana untuk mempelajari teknik dasar dan strategi bermain takraw.

"Karena belum ada pelatih, saya rutin menonton tutorial di YouTube. Saya sangat mengidolakan Mohamad Azlan bin Alias, atlet sepak takraw asal Malaysia yang sukses menyabet dua medali emas pada Sukan SEA 2025," jelasnya.

Inspirasi dari sang idola semakin memacu semangat Ridwan untuk bersaing di tingkat internasional. Dalam cabang olahraga takraw adaptive, Ridwan menempati posisi service. Ia menyadari bahwa perjalanan di kancah internasional tidaklah mulus. Pandangan sebelah mata dari orang lain pun pernah ia rasakan, namun hal tersebut tak dihiraukannya.

"Saya tidak memedulikan pandangan negatif tersebut. Fokus saya adalah terus maju, berusaha maksimal, dan mencapai tujuan," tegasnya penuh keyakinan.

Bagi Ridwan, kesempatan membela lambang Garuda di dada merupakan pembuktian bahwa keterbatasan fisik tidak membatasi seberapa jauh seseorang bisa bermimpi dan melangkah.

"Meskipun memiliki keterbatasan sejak lahir, saya ingin membuktikan bahwa hal tersebut tidak menghalangi langkah kita. Di tengah keterbatasan, selalu ada kemungkinan yang bisa diraih," imbuhnya.

Ia juga menyampaikan pesan inspiratif kepada individu dengan kondisi serupa agar pantang menyerah.

"Jangan pernah merasa rendah diri dan menyerah. Buktikan kepada dunia bahwa kita yang memiliki keterbatasan juga mampu melampaui batasan tersebut," pesan pemuda yang telah menggeluti profesi montir selama empat tahun ini.

Keberangkatan dengan Swadaya

Sementara itu, Pengurus Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Kabupaten Gresik, Moh Hanafi, mengonfirmasi bahwa Tim Takraw Adaptive Indonesia telah mengantongi surat tugas dari PSTI Jawa Timur untuk berlaga di Thailand.

Hanafi menjelaskan bahwa cabang olahraga sepak takraw adaptive belum bernaung di bawah National Paralympic Committee of Indonesia (NPC Indonesia). Oleh karena itu, keberangkatan para atlet masih didanai secara swadaya dan mengandalkan dukungan dari para donatur.

"Kami akan berangkat pada tanggal 5 hingga 12 September 2026. Seluruh biaya ditanggung secara mandiri dan dibantu oleh donatur. Sejauh ini belum ada dukungan dari instansi pemerintah maupun perusahaan, termasuk Danantara di Gresik," papar Hanafi.

Hanafi mengaku baru mengenal sosok Ridwan saat melakukan kunjungan ke Bawean beberapa waktu lalu. Ia berharap keikutsertaan Ridwan dapat menjadi titik tolak bagi lahirnya atlet-atlet takraw adaptive berbakat lainnya dari Gresik di kancah nasional.

"Kami berharap Ridwan dan skuad Indonesia mampu mengulang kejayaan dan meraih prestasi. Apalagi, pada tahun sebelumnya Indonesia berhasil keluar sebagai juara," harapnya.

Hanafi menambahkan bahwa Timnas Takraw Adaptive Indonesia sebelumnya sukses merengkuh medali emas pada ajang World Abilitysport 2025 di Turki.

"Pada tahun 2025 di Turki, dalam ajang World Abilitysport, Timnas sepak takraw adaptive Indonesia berhasil meraih medali emas. Saat itu belum ada perwakilan dari Gresik. Kami berdoa agar pada turnamen tanggal 7 hingga 11 September nanti, Indonesia bisa kembali mempertahankan gelar juara," pungkasnya.resik - Muhammad Ridwan, pemuda 23 tahun asal Desa Balikterus, Dusun Sungai Terus Deje, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. Berbekal kegigihan dan latihan otodidak melalui platform berbagi video YouTube, Ridwan sukses menembus skuad Tim Nasional (Timnas) Takraw Adaptive Indonesia.

Pencapaian luar biasa ini mengantarkan Ridwan mewakili Indonesia pada ajang Thailand Para Sports Championship 2026 yang berlangsung di Phra Nakhon Si Ayutthaya, Thailand, pada bulan September lalu.

Perjalanan Ridwan menuju level nasional jauh dari kata mudah. Tanpa fasilitas latihan yang memadai, ia merintis mimpinya dengan disiplin tinggi. Sebelum memulai pekerjaannya sebagai mekanik bengkel, Ridwan rutin berlari pagi guna menjaga kondisi fisiknya. Pada sore harinya, ia melanjutkan porsi latihan dengan menggunakan bola rotan. Rutinitas ini telah dilakoninya selama bertahun-tahun.

Ketertarikan Ridwan pada olahraga sepak takraw mulai bersemi sejak ia duduk di bangku kelas V Sekolah Dasar (SD). Minatnya terus berkembang, meskipun harus menghadapi minimnya fasilitas pendukung di kampung halamannya.

"Awalnya saya mendapat tawaran dari sesama atlet takraw di desa. Ketika menerima panggilan untuk mewakili Timnas, saya sempat merasa terkejut," ungkap Ridwan saat ditemui pada Kamis (27/8/2026).

Menjelang keberangkatannya ke Thailand, Ridwan telah berada di wilayah Gresik daratan selama kurang lebih satu pekan. Sembari menunggu jadwal keberangkatan, ia menetap di bengkel milik kerabatnya di kawasan Gresik Kota Baru (GKB).

"Sambil menunggu, saya membantu pekerjaan di bengkel milik saudara. Selain itu, saya juga tetap berlatih menimang bola, mengingat tidak ada lapangan takraw di sekitar sini," tambahnya.

Kondisi fisik yang dialaminya sejak lahir tidak menyurutkan semangat Ridwan untuk terus menekuni hobinya. Bakatnya bahkan sudah terlihat sejak SMP, di mana ia pernah meraih gelar juara takraw tingkat Bawean.

Pasca lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Ridwan sempat memfokuskan diri pada dunia kerja. Tiga tahun berselang, ia mulai menggeluti bidang otomotif dan berprofesi sebagai montir hingga saat ini.

"Saya belum pernah mewakili Gresik di tingkat daerah, namun langsung terpilih untuk Timnas. Rencananya kami akan berangkat pada tanggal 5 September mendatang," tutur anak bungsu dari tiga bersaudara ini.

Persembahan Khusus untuk Sang Ibu

Di balik kesuksesannya, Ridwan mendedikasikan pencapaiannya ini untuk sang ibu yang menjadi sumber motivasi utamanya. Ayahnya, Abdur Rahman, telah berpulang. Demikian pula dengan kakak pertamanya, sementara kakak keduanya tengah merantau.

Baca Juga: Cara Generate dan Verifikasi API Key IndexNow di Bing Webmaster Tools

Belajar Teknik dari YouTube

Ketiadaan pelatih formal tidak menghentikan langkah Ridwan untuk meningkatkan kemampuannya. Ia memanfaatkan YouTube sebagai sarana untuk mempelajari teknik dasar dan strategi bermain takraw.

"Karena belum ada pelatih, saya rutin menonton tutorial di YouTube. Saya sangat mengidolakan Mohamad Azlan bin Alias, atlet sepak takraw asal Malaysia yang sukses menyabet dua medali emas pada Sukan SEA 2025," jelasnya.

Inspirasi dari sang idola semakin memacu semangat Ridwan untuk bersaing di tingkat internasional. Dalam cabang olahraga takraw adaptive, Ridwan menempati posisi service. Ia menyadari bahwa perjalanan di kancah internasional tidaklah mulus. Pandangan sebelah mata dari orang lain pun pernah ia rasakan, namun hal tersebut tak dihiraukannya.

"Saya tidak memedulikan pandangan negatif tersebut. Fokus saya adalah terus maju, berusaha maksimal, dan mencapai tujuan," tegasnya penuh keyakinan.

Bagi Ridwan, kesempatan membela lambang Garuda di dada merupakan pembuktian bahwa keterbatasan fisik tidak membatasi seberapa jauh seseorang bisa bermimpi dan melangkah.

"Meskipun memiliki keterbatasan sejak lahir, saya ingin membuktikan bahwa hal tersebut tidak menghalangi langkah kita. Di tengah keterbatasan, selalu ada kemungkinan yang bisa diraih," imbuhnya.

Ia juga menyampaikan pesan inspiratif kepada individu dengan kondisi serupa agar pantang menyerah.

"Jangan pernah merasa rendah diri dan menyerah. Buktikan kepada dunia bahwa kita yang memiliki keterbatasan juga mampu melampaui batasan tersebut," pesan pemuda yang telah menggeluti profesi montir selama empat tahun ini.

Keberangkatan dengan Swadaya

Sementara itu, Pengurus Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Kabupaten Gresik, Moh Hanafi, mengonfirmasi bahwa Tim Takraw Adaptive Indonesia telah mengantongi surat tugas dari PSTI Jawa Timur untuk berlaga di Thailand.

Hanafi menjelaskan bahwa cabang olahraga sepak takraw adaptive belum bernaung di bawah National Paralympic Committee of Indonesia (NPC Indonesia). Oleh karena itu, keberangkatan para atlet masih didanai secara swadaya dan mengandalkan dukungan dari para donatur.

"Kami akan berangkat pada tanggal 5 hingga 12 September 2026. Seluruh biaya ditanggung secara mandiri dan dibantu oleh donatur. Sejauh ini belum ada dukungan dari instansi pemerintah maupun perusahaan, termasuk Danantara di Gresik," papar Hanafi.

Hanafi mengaku baru mengenal sosok Ridwan saat melakukan kunjungan ke Bawean beberapa waktu lalu. Ia berharap keikutsertaan Ridwan dapat menjadi titik tolak bagi lahirnya atlet-atlet takraw adaptive berbakat lainnya dari Gresik di kancah nasional.

"Kami berharap Ridwan dan skuad Indonesia mampu mengulang kejayaan dan meraih prestasi. Apalagi, pada tahun sebelumnya Indonesia berhasil keluar sebagai juara," harapnya.

Hanafi menambahkan bahwa Timnas Takraw Adaptive Indonesia sebelumnya sukses merengkuh medali emas pada ajang World Abilitysport 2025 di Turki.

"Pada tahun 2025 di Turki, dalam ajang World Abilitysport, Timnas sepak takraw adaptive Indonesia berhasil meraih medali emas. Saat itu belum ada perwakilan dari Gresik. Kami berdoa agar pada turnamen tanggal 7 hingga 11 September nanti, Indonesia bisa kembali mempertahankan gelar juara," pungkasnya.

Artikel Terkait